Dear Dandelion

Demi pagi burung bernyanyi, demi malam bintang menghiasi, mintakan angin jangan berlari,
Aku pengin tuangkan segala rasa, kepada alam, kepada kehidupan, dan juga Kau,
Lalu pastikan angin tidak berlari, karena Aku 'kan bertebaran dalam sajak rapuh.


Di teras rumah makan kami kini berhadapan
Baru berkenalan. Cuma berpandangan
Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam

Masih saja berpandangan
Dalam lakon pertama
Orkes meningkah dengan “Carmen” pula.

Ia mengerling. Ia ketawa
Dan rumput kering terus menyala
Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
Darahku terhenti berlari

Ketika orkes memulai “Ave Maria”
Kuseret ia ke sana….

Chairil Anwar, Maret 1943

Lagu Biasa


Sambil berselisih lalu
mengebu debu.

Kupercepat langkah. Tak noleh ke belakang
Ngeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang

Barah ternganga

Melayang ingatan ke biniku
Lautan yang belum terduga
Biar lebih kami tujuh tahun bersatu

Barangkali tak setahuku
Ia menipuku.

Chairil Anwar, Maret 1943

Kupu Malam dan Biniku


Kita gunyah lemah

Sekali tetak tentu rebah
Segala erang dan jeritan
Kita pendam dalam keseharian

Mari tegak merentak
Diri-sekeliling kita bentak
Ini malam purnama akan menembus awan.

Chairil Anwar, 22 Juli 1943

Kita Gunyah Lemah


Apabila sampai waktu dimana candaku tak lagi membuatmu tertawa, kebaikan tak lagi kau anggap kebaikan. Apabila sampai waktu dimana kau katakan lelah dengan semua, dengar cacian tentangku memenuhi telinga. Dan, apabila sampai waktu dimana kau melihatku hanya keburukan, hitam legam.

Aku kan sadar merelakan tuk melepasmu dengan membawa pulang jawaban-jawaban indah atas pertanyaanku.

Lalu jelaskan apa yang membuatmu sedih, Aku yang menyakitimu atau kamu yang menyakitiku? Aku telah melindungimu dari awan-awan yang menghitamkan pelangi, dan mereka tak kan kembali.

Lalu jelaskan apa yang membuatmu bosan, Aku yang menghiburmu atau kamu yang menghiburku?
Seandainya malaikat bisa menunjukkan, akan kau lihat bahwa akulah alasan dari senyummu.

Lalu jelaskan apa yang membuatmu peduli kata mereka, Aku yang peduli, atau mereka yang peduli?
Bahkan sering kusembunyikan air mataku agar tak membuatmu gelisah, dan kau tetap tersenyum indah.

Ku simpan kata-kata ini untuk nanti, berharap hanya tersimpan sampai mati.

Dandelion, Bandung, 22 Agustus 2014

Jika Nanti Kamu Pergi


Langit menjemput malam
lihatlah dia bersinar
sebelum pulang

semua tengah menunggu
dimana aku berjalan

Berhenti sejenak waktu
Berhenti termakan rindu

Dan langit selimuti alam
dan lihatlah dia tegar
dan berdiri tanpa penopang

semua tengah menunggu
aku terus berjalan

Dandelion, Kereta Malang-Bandung 18 Agustus 2014

Dibalik Kaca Kereta


Ketika serbuk itu jatuh
dan cinta mulai tumbuh
sering ku ucap namamu
dalam setiap doaku

Dengan hati aku berdoa
untuk dia yang 'kan temaniku
jadi bagian hidupku
setia bersama sampai akhir tiba

Dengan hati aku berdoa
untuk dia yang lebih indah
dari jutaan makhluk lainnya
teruslah haus mencinta

Aku kan menuntunmu
dan kau menuntunku
benarkan salahku
ingatkan salahmu

untuk seseorang
yang sempurnakan ketidaksempurnaanku
untuk seseorang
yang pahami kurang lebihku
dengan hati aku berdoa

Sekali ini aku merasa
hati yang melihat lebih terang dari mata
hati yang mendengar lebih peka dari telinga
dengan cincin atas nama cinta
 aku memilihmu

Dandelion, Malang 8 Agustus 2014

Syair Suci