Dear Dandelion

Demi pagi burung bernyanyi, demi malam bintang menghiasi, mintakan angin jangan berlari,
Aku pengin tuangkan segala rasa, kepada alam, kepada kehidupan, dan juga Kau,
Lalu pastikan angin tidak berlari, karena Aku 'kan bertebaran dalam sajak rapuh.


Apabila sampai waktu dimana candaku tak lagi membuatmu tertawa, kebaikan tak lagi kau anggap kebaikan. Apabila sampai waktu dimana kau katakan lelah dengan semua, dengar cacian tentangku memenuhi telinga. Dan, apabila sampai waktu dimana kau melihatku hanya keburukan, hitam legam.

Aku kan sadar merelakan tuk melepasmu dengan membawa pulang jawaban-jawaban indah atas pertanyaanku.

Lalu jelaskan apa yang membuatmu sedih, Aku yang menyakitimu atau kamu yang menyakitiku? Aku telah melindungimu dari awan-awan yang menghitamkan pelangi, dan mereka tak kan kembali.

Lalu jelaskan apa yang membuatmu bosan, Aku yang menghiburmu atau kamu yang menghiburku?
Seandainya malaikat bisa menunjukkan, akan kau lihat bahwa akulah alasan dari senyummu.

Lalu jelaskan apa yang membuatmu peduli kata mereka, Aku yang peduli, atau mereka yang peduli?
Bahkan sering kusembunyikan air mataku agar tak membuatmu gelisah, dan kau tetap tersenyum indah.

Ku simpan kata-kata ini untuk nanti, berharap hanya tersimpan sampai mati.

Dandelion, Bandung, 22 Agustus 2014

Jika Nanti Kamu Pergi


Langit menjemput malam
lihatlah dia bersinar
sebelum pulang

semua tengah menunggu
dimana aku berjalan

Berhenti sejenak waktu
Berhenti termakan rindu

Dan langit selimuti alam
dan lihatlah dia tegar
dan berdiri tanpa penopang

semua tengah menunggu
aku terus berjalan

Dandelion, Kereta Malang-Bandung 18 Agustus 2014

Dibalik Kaca Kereta


Ketika serbuk itu jatuh
dan cinta mulai tumbuh
sering ku ucap namamu
dalam setiap doaku

Dengan hati aku berdoa
untuk dia yang 'kan temaniku
jadi bagian hidupku
setia bersama sampai akhir tiba

Dengan hati aku berdoa
untuk dia yang lebih indah
dari jutaan makhluk lainnya
teruslah haus mencinta

Aku kan menuntunmu
dan kau menuntunku
benarkan salahku
ingatkan salahmu

untuk seseorang
yang sempurnakan ketidaksempurnaanku
untuk seseorang
yang pahami kurang lebihku
dengan hati aku berdoa

Sekali ini aku merasa
hati yang melihat lebih terang dari mata
hati yang mendengar lebih peka dari telinga
dengan cincin atas nama cinta
 aku memilihmu

Dandelion, Malang 8 Agustus 2014

Syair Suci


deburan ombak amat berisik
terus mengusik dan menenangkan
menghantam karang hanya diam

jejak kakimu masih ada
menginjak pasir tinggal nanah
meski ombak telah menghapusnya

cintaku telah menjadi mayat
jadi abu atau kelabu
bukan lagi urusanmu

jika cintamu sementara
katakan saja awalnya

kepada air
kupahat wajahmu
biarkan mengalir

jika cintamu sementara
katakan saja awalnya

kepada pasir
kuukir namamu
lalu tersapu

dan jika cintamu sementara
katakan saja awalnya

kepada hati
terkunci mati
tak kubiarkan terisi

bahkan darah membisu dalam nadi

Dandelion, Malang, 6 Agustus 2014

Dihempas Ombak


Betapa agung kulihat
langit berdiri tanpa tiang
cacing buta bisa cari makan
nyamuk kecil bisa terbang
Sungguh, betapa agung kulihat
air menguap membeku mencair
bumi seakan tak berputar
siapa mengira tanah ini tak datar

Betapa agung kulihat
mikroba tiba-tiba ada
gulma tumbuh tanpa ditanam
bunglon kamuflase tanpa guru
Sungguh, betapa agung kulihat
putik benangsari bertemu
daun berguguran ada sebabnya
lukisan tangan tak ada yang sama

Maha Besar Tuhan semesta alam
Maha Pengasih Maha Penyayang
Maha Pencipta dengan segala cinta
Aku ingin mencintaimu
seperti ikan yang tak henti memuja
seperti bulan yang setia mengelilingi bumi
seperti matahari yang menjadikan langit pagi

Dandelion, Malang, 21 Ramadhan 1435 H

Karya Tuhan


kau buat, diriku,
rasakan pahitnya akan cintamu
tuliskan kesedihan
kisah-kisah lama yang terpendam

tak perlu, diriku menanti jawabanmu
tak ingin, diriku dengarkan alasanmu

kau hancurkan semua
harapan yang pernah ada
apa ku tak pantas
untuk mendapatkanmu - seutuhnya

ratapi, kisahku,
ingin akhiri semua tanpamu
lukiskan kepedihan
kata-kata muak yang kau ucapkan

tak perlu, diriku menanti jawabanmu
tak ingin, diriku dengarkan alasanmu

kau hancurkan semua
harapan yang pernah ada
apa ku tak pantas
untuk mendapatkanmu - seutuhnya

Dandelion, Yogi, Lumajang, 2009

Tak Perlu