Dear Dandelion

Demi pagi burung bernyanyi, demi malam bintang menghiasi, mintakan angin jangan berlari,
Aku pengin tuangkan segala rasa, kepada alam, kepada kehidupan, dan juga Kau,
Lalu pastikan angin tidak berlari, karena Aku 'kan bertebaran dalam sajak rapuh.


untuk cahaya
sebatang korek tergores lalu mati
sebatang lagi patah dan mati
sebatang lainnya sudah mati
jika berujung sama mati
mana yang berarti?

Dandelion, Malang 12 November 2014

Korek Nil


Dan hujan tlah kembali
setelah kering kerontang kau tinggalkan
dalam kemarau panjang
mengapa kau sembunyi?

Ya, hujan tlah kembali
setelah sungai bukan lagi sungai
hanya retakan tanah yang kaku
kemana kau selama ini?

Aku masih setia menanti
sebagai samudra yang sepi
tiada dirimu dan cahaya
yang jadikannya pelangi

hingga hujan kembali
wajahmu masih bersemayam
dan aku hanya termenung
ribuan kali merenda rindu

Dandelion, Malang 13 Oktober 2014

Hujan Oktober


Apabila sampai waktu dimana candaku tak lagi membuatmu tertawa, kebaikan tak lagi kau anggap kebaikan. Apabila sampai waktu dimana kau katakan lelah dengan semua, dengar cacian tentangku memenuhi telinga. Dan, apabila sampai waktu dimana kau melihatku hanya keburukan, hitam legam.

Aku kan sadar merelakan tuk melepasmu dengan membawa pulang jawaban-jawaban indah atas pertanyaanku.

Lalu jelaskan apa yang membuatmu sedih, Aku yang menyakitimu atau kamu yang menyakitiku? Aku telah melindungimu dari awan-awan yang menghitamkan pelangi, dan mereka tak kan kembali.

Lalu jelaskan apa yang membuatmu bosan, Aku yang menghiburmu atau kamu yang menghiburku?
Seandainya malaikat bisa menunjukkan, akan kau lihat bahwa akulah alasan dari senyummu.

Lalu jelaskan apa yang membuatmu peduli kata mereka, Aku yang peduli, atau mereka yang peduli?
Bahkan sering kusembunyikan air mataku agar tak membuatmu gelisah, dan kau tetap tersenyum indah.

Ku simpan kata-kata ini untuk nanti, berharap hanya tersimpan sampai mati.

Dandelion, Bandung, 22 Agustus 2014

Jika Nanti Kamu Pergi


Langit menjemput malam
lihatlah dia bersinar
sebelum pulang

semua tengah menunggu
dimana aku berjalan

Berhenti sejenak waktu
Berhenti termakan rindu

Dan langit selimuti alam
dan lihatlah dia tegar
dan berdiri tanpa penopang

semua tengah menunggu
aku terus berjalan

Dandelion, Kereta Malang-Bandung 18 Agustus 2014

Dibalik Kaca Kereta


Ketika serbuk itu jatuh
dan cinta mulai tumbuh
sering ku ucap namamu
dalam setiap doaku

Dengan hati aku berdoa
untuk dia yang 'kan temaniku
jadi bagian hidupku
setia bersama sampai akhir tiba

Dengan hati aku berdoa
untuk dia yang lebih indah
dari jutaan makhluk lainnya
teruslah haus mencinta

Aku kan menuntunmu
dan kau menuntunku
benarkan salahku
ingatkan salahmu

untuk seseorang
yang sempurnakan ketidaksempurnaanku
untuk seseorang
yang pahami kurang lebihku
dengan hati aku berdoa

Sekali ini aku merasa
hati yang melihat lebih terang dari mata
hati yang mendengar lebih peka dari telinga
dengan cincin atas nama cinta
 aku memilihmu

Dandelion, Malang 8 Agustus 2014

Syair Suci


deburan ombak amat berisik
terus mengusik dan menenangkan
menghantam karang hanya diam

jejak kakimu masih ada
menginjak pasir tinggal nanah
meski ombak telah menghapusnya

cintaku telah menjadi mayat
jadi abu atau kelabu
bukan lagi urusanmu

jika cintamu sementara
katakan saja awalnya

kepada air
kupahat wajahmu
biarkan mengalir

jika cintamu sementara
katakan saja awalnya

kepada pasir
kuukir namamu
lalu tersapu

dan jika cintamu sementara
katakan saja awalnya

kepada hati
terkunci mati
tak kubiarkan terisi

bahkan darah membisu dalam nadi

Dandelion, Malang, 6 Agustus 2014

Dihempas Ombak